Saturday, August 30, 2025

Kesetiaan Katapang – Dari KNIL, Heiho, hingga PETA untuk Republik


 


1. Jejak Militer yang Panjang

Sejak masa kolonial Belanda, sejumlah pemuda Katapang direkrut ke dalam KNIL. Mereka ditempa dengan disiplin militer modern, strategi tempur, dan kedisiplinan keras khas tentara kolonial. Pada masa pendudukan Jepang, sebagian masyarakat Katapang juga masuk sebagai Heiho, pasukan pembantu Jepang yang ditempa dengan keras di medan perang.

Meski berangkat dari latar berbeda, ada benang merah yang jelas: masyarakat Katapang telah lama terbiasa hidup dalam kedisiplinan, keprajuritan, dan pengorbanan.

2. Pintu Menuju Indonesia: Bergabung dengan PETA

Momentum terbesar datang ketika Jepang membentuk PETA (Pembela Tanah Air). Bagi banyak pemuda Katapang, inilah jalan untuk mengalihkan kemampuan militer mereka dari sekadar “tentara upahan” menjadi pejuang tanah air.
Mereka memutuskan untuk tidak lagi sekadar menjalankan perintah kekuasaan asing, tetapi menggunakan keahlian mereka untuk menyiapkan diri menyambut Indonesia merdeka. Dari sinilah lahir peralihan sikap: dari pasukan kolonial menjadi prajurit Republik.

3. Menolak Ajakan RMS & Peristiwa Pembantaian Katapang

Tahun 1950, Maluku diguncang oleh proklamasi Republik Maluku Selatan (RMS). Banyak bekas KNIL memilih berpihak pada gerakan separatis ini. Namun masyarakat Katapang justru menegaskan sikap berbeda: menolak bergabung dengan RMS dan berdiri di sisi Republik Indonesia.
Keputusan ini tidak mudah. Penolakan tersebut justru membuat Katapang menjadi sasaran amarah RMS. Pada bulan Mei 1950, RMS menyerang Katapang, membakar rumah-rumah, dan melakukan pembantaian brutal terhadap warga — termasuk kepala kampung Katapang yang dibunuh secara keji.
Peristiwa tragis ini menjadi bukti nyata bahwa pilihan Katapang untuk setia pada Republik dibayar mahal dengan darah dan nyawa. Namun justru karena itulah, kesetiaan Katapang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka membayar harga yang sangat tinggi demi Merah Putih tetap berkibar di tanah Maluku.

 

4. Garda Republik di Tengah Kekacauan

Ketika negara kewalahan menghadapi perlawanan RMS, masyarakat Katapang tetap tampil sebagai salah satu kekuatan lokal yang kokoh di pihak Republik. Dengan pengalaman tempur dari KNIL, disiplin Heiho, dan semangat nasionalis PETA, mereka menjadi benteng yang memperkuat posisi pemerintah dalam meredam pemberontakan.
Mereka bukan hanya saksi sejarah, tetapi aktor sejarah yang nyata — ikut memastikan bahwa Maluku tidak tercerabut dari pangkuan NKRI.


Makna Sejarah Kesetiaan Katapang

Kisah Katapang mengajarkan bahwa:

  • Kesetiaan kepada Republik bukanlah soal latar belakang, melainkan pilihan sadar.

  • Meski pernah menjadi bagian dari pasukan asing, masyarakat Katapang tidak kehilangan arah kebangsaan.

  • Bahkan ketika pilihan itu dibalas dengan kekerasan dan pembantaian, Katapang tetap berdiri teguh di pihak Republik.

Inilah yang menjadikan Katapang bukan hanya bagian dari sejarah Maluku, melainkan pilar kesetiaan terhadap Indonesia. Jejak mereka adalah bukti bahwa Republik ini bertahan bukan hanya karena tentara resmi negara, melainkan juga karena keberanian komunitas-komunitas lokal yang memilih untuk tidak mengkhianati Merah Putih, sekalipun harus membayar dengan darah.

SEJARAH : BENDERA PUSAKA DESA KATAPANG MIRING - PROVINSI MALUKU

 SEJARAH BENDERA MERAH PUTIH PUSAKA di DESA KATAPANG MIRING


1. Deskripsi Teknis
Bendera pusaka Katapang berukuran sekitar 200 x 300 cm, dengan rasio standar 2 : 3 sebagaimana Bendera Negara Republik Indonesia. Bahannya terbuat dari kain katun mori, sejenis katun tebal asal Jepang yang banyak beredar di Indonesia pada masa pendudukan Jepang (1942–1945). Warna merah dan putih dibuat dari dua lembar kain terpisah yang kemudian dijahit rapi pada garis tengah. Tekstur kainnya menunjukkan ciri khas bahan alami: serat panjang, mudah menyerap noda, dan robekan yang berbulu.

2. Asal-Usul dan Pemberian Negara
Bendera ini bukan hasil buatan warga Katapang, melainkan pemberian dari negara sekitar tahun 1944–1950. Latar belakangnya erat kaitannya dengan pengumuman Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso pada 7 September 1944, yang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Pada masa itu, kain merah dan putih asal Jepang mulai dipergunakan untuk membuat bendera di berbagai daerah.

Sebagai perbandingan, pada Oktober 1944, dua potong kain katun Jepang diberikan di Jakarta. Dari kain itulah Ibu Fatmawati Soekarno menjahit Bendera Pusaka Nasional dengan mesin jahit tangan, yang kemudian dikibarkan pada 17 Agustus 1945. Dengan cara yang serupa, dalam konteks Maluku, negara pun menghadirkan bendera pusaka untuk desa-desa pejuang, termasuk Katapang.

3. Nilai Historis
Sebagaimana Bendera Pusaka Nasional di Jakarta, bendera Katapang pun memiliki nilai historis sejajar. Ia menjadi tanda bahwa negara hadir dan mengakui Katapang Miring sebagai desa pejuang di garis depan pertahanan merah putih. Robekan dan lubang yang ada di kainnya bukan sekadar kerusakan, tetapi jejak nyata pergolakan dan pengorbanan rakyat Katapang dalam menghadapi pemberontakan RMS dan mempertahankan kedaulatan Republik.

4. Makna Simbolis
Bendera pusaka ini menyatukan dua hal penting: legitimasi negara dan pengorbanan rakyat. Ia adalah simbol pengakuan bahwa Katapang memiliki peran dalam sejarah nasional, sekaligus menjadi lambang luka perjuangan yang masih melekat hingga kini. Setiap helai benangnya mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak hanya diproklamasikan di Jakarta, tetapi juga dipertahankan di kampung-kampung jauh di Maluku.

5. Ironi dan Harapan
Ironisnya, meski bendera pusaka ini membuktikan pengakuan negara di masa lalu, sejak 33 tahun terakhir Katapang justru diturunkan statusnya dari desa menjadi dusun. Sejarah perjuangan yang seharusnya menjadi kebanggaan, kini seakan dipinggirkan. Padahal, sama seperti Bendera Pusaka Nasional yang dijaga di Monumen Nasional, bendera Katapang pun layak dihormati sebagai pusaka daerah. Dan bersama dengan itu, desa Katapang Miring layak mendapatkan kembali pengakuan dan kehormatan sebagai desa pejuang.