Saturday, August 30, 2025

SEJARAH : BENDERA PUSAKA DESA KATAPANG MIRING - PROVINSI MALUKU

 SEJARAH BENDERA MERAH PUTIH PUSAKA di DESA KATAPANG MIRING


1. Deskripsi Teknis
Bendera pusaka Katapang berukuran sekitar 200 x 300 cm, dengan rasio standar 2 : 3 sebagaimana Bendera Negara Republik Indonesia. Bahannya terbuat dari kain katun mori, sejenis katun tebal asal Jepang yang banyak beredar di Indonesia pada masa pendudukan Jepang (1942–1945). Warna merah dan putih dibuat dari dua lembar kain terpisah yang kemudian dijahit rapi pada garis tengah. Tekstur kainnya menunjukkan ciri khas bahan alami: serat panjang, mudah menyerap noda, dan robekan yang berbulu.

2. Asal-Usul dan Pemberian Negara
Bendera ini bukan hasil buatan warga Katapang, melainkan pemberian dari negara sekitar tahun 1944–1950. Latar belakangnya erat kaitannya dengan pengumuman Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso pada 7 September 1944, yang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Pada masa itu, kain merah dan putih asal Jepang mulai dipergunakan untuk membuat bendera di berbagai daerah.

Sebagai perbandingan, pada Oktober 1944, dua potong kain katun Jepang diberikan di Jakarta. Dari kain itulah Ibu Fatmawati Soekarno menjahit Bendera Pusaka Nasional dengan mesin jahit tangan, yang kemudian dikibarkan pada 17 Agustus 1945. Dengan cara yang serupa, dalam konteks Maluku, negara pun menghadirkan bendera pusaka untuk desa-desa pejuang, termasuk Katapang.

3. Nilai Historis
Sebagaimana Bendera Pusaka Nasional di Jakarta, bendera Katapang pun memiliki nilai historis sejajar. Ia menjadi tanda bahwa negara hadir dan mengakui Katapang Miring sebagai desa pejuang di garis depan pertahanan merah putih. Robekan dan lubang yang ada di kainnya bukan sekadar kerusakan, tetapi jejak nyata pergolakan dan pengorbanan rakyat Katapang dalam menghadapi pemberontakan RMS dan mempertahankan kedaulatan Republik.

4. Makna Simbolis
Bendera pusaka ini menyatukan dua hal penting: legitimasi negara dan pengorbanan rakyat. Ia adalah simbol pengakuan bahwa Katapang memiliki peran dalam sejarah nasional, sekaligus menjadi lambang luka perjuangan yang masih melekat hingga kini. Setiap helai benangnya mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak hanya diproklamasikan di Jakarta, tetapi juga dipertahankan di kampung-kampung jauh di Maluku.

5. Ironi dan Harapan
Ironisnya, meski bendera pusaka ini membuktikan pengakuan negara di masa lalu, sejak 33 tahun terakhir Katapang justru diturunkan statusnya dari desa menjadi dusun. Sejarah perjuangan yang seharusnya menjadi kebanggaan, kini seakan dipinggirkan. Padahal, sama seperti Bendera Pusaka Nasional yang dijaga di Monumen Nasional, bendera Katapang pun layak dihormati sebagai pusaka daerah. Dan bersama dengan itu, desa Katapang Miring layak mendapatkan kembali pengakuan dan kehormatan sebagai desa pejuang.

No comments:

Post a Comment

Sampaikan Komentar Anda