Tuesday, February 25, 2014

KAMPUNG PEJUANG YANG TERCAMPAKAN OLEH IBU PERTIWI



KAMPUNG PEJUANG YANG TERCAMPAKAN OLEH IBU PERTIWI


Menyesal rasanya, darah kakek-kakek kami dan orang tua kami yang tertumpah untuk dan demi membela kemerdekaan Ibu Pertiwi “Indonesia Raya”. Darah mereka, semangat mereka, jiwa, mereka, kebahagiaan mereka semuanya dilimpahkan untuk satu cita, satu tujuan “menuju Indonesia Jaya,  Menuju Indoensia Raya. Mereka memang tidak bisa bebuat banyak tapi mereka sudah banyak berbuat untuk negeri ini. Darah, keringat tak terhitung lagi entah sudah beberapa tetes yang dituangkan untuk membela negeri ini, namun apa yang didapat kampong mereka, tempat tinggal mereka tempat yang menjadi kebanggaan, tempat yang memunculkan semangat-semangat pratiotisme dicampakan dan sangat dicampakan oleh Tanah Air sendiri. Tanah air yang dibangn dengan keringat darah, tetasen airmata, tulang belulang para kesatria. Tapi apa yang di peroleh kini kampong itu hanya sebuah dusun yang sungguh tidak dihargai seakan selalu ditertawakan oleh antek-antek separatis dimasa kemerdekaan.
Mereka seakan tertawa, dari jaman penjajahan hingga kemedekaan pejuang terus dijajah dan penjajah dianggap sebagai pejuang. Kampung yang nyata-nyata adalah kampong separatis dibiarkan berdiri kokoh difasilitasi, dimanjakan seakan mereka adalah pejuang seakan mereka adalah pahlawan dan perintis kemerdekaan. Sementara kampong para pejuang itu dibiarkan terombang ambing dengan status yang didak jelas. Kampong yang dibantai oleh gerakan separatis karena mempertahankan kemerdekaan, kampong yang menjadi tampat persinggahan awal dua KRI tanah air untuk pembasmian RMS di bumi Maluku. Itulah KRI Rajawali dan KRI Hang Tuah kapal perang nusantara yang disambut kedatangannya dengan suka cita oleh masyarakat katapang, namun kepergiannya membawa malapateka, puluhan rakyat katapang di bunuh, dibunuh dengan sadis, tanpa ada rasa perikemanusiaan. Pejuang dibantai, mayat mereka dibiarkan berserakan, tidak boleh ada yang menangis semuanya menari, keluaga yang pejuang yang terbunuh hanya pasrah, hanya menunggu giliran meraka akan dibunuh, hanya air mata doa yang sanggup ditelan tiada lagi kata yang harus diucap, tiada lagi tatap yang harus ditatap mereka taksanggup membuka mata melihat tumpukan jenazah sang pejuang yang mereka harapkan terbujur kaku.
Hanya kalimat yang tersembunyi muncul dari detakan jangtung yang sembraut, smoga ini cepat berakhir semoga Indonesia cepat jaya, semoga Indonesia Cepat Merdeka agar kami bisa terbebas dari perilaku-prilaku tidak bermoral ini. Puluhan mayat bergelimpangan tak membuat kendor semangat pejuang mereka, mereka terus saja membangun jentik-jentik semangat untuk melawan. Kami adalah pejuang, kami cinta Indonesia, kami cinta tanah air silhkan ambil darah kami, ambil nyawa kami tapi tak akan pernah sanggup engkau mengambil semangat kami untuk menjayakan negeri ini.
Tenaga mereka terkuras habis oleh siksaan prajurit belanda, oleh siksaan prajurit jepang namun selalu pancarkan semangat membara. Semangat untuk tetap bangkit berharap kedepan akan lebih baik. Semangat yang selalu membara mengangkat kepala dan jiwa mereka untuk teriakan kemerdekaan “MERDEKA” semangat mereka yang menggelora membangkitkan keberanian mereka hingga terkibarkan sang Merah Putih di 18 Agustus 1945 saat pasukan Jepang kebingunan pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Namun kenapa kampong mereka yang ditinggal ileh anak cucu mereka tidak dihargai sama sekali.
Kami yang tinggal sekarang ini anak cucu merekah tidak ikhlas dengan pengorban yang telah dilakukan oleh kakek-kakek dan orang tua kami. Setiap darah yang tercurah tidak ikhlas kami berikan untuk Negara ini. Kami anak cucu mereka menuntut, menuntut sebuah pengakuan yang semu, pengakuan untuk kampong kami diperhatikan kampong pejuang itu diperhatikan, kenapa kampong separatis diperhatikan dibiayai oleh Negara sementara kampong pejuang dicampakan.
Tahun 1940 dalam kehidupan masyarakat Katapang belum terjadi pergerakan perjuangan, kehidupan pada masa itu dirasakan normal adanya. Bekerja untuk pemerintah belanda mengambil keuntungan seadanya bukan sebuah penyiksaan menurut mereka. Asalkan tidak disakiti atau ditindas kasar mereka tetep melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Mulai terjadi pergerakan masyarakat katapang melawan penjajah adalah pada tahun 1942 ketika jepang menduduki seluruh Indonsia termasuk Katapang. Puncaknya ketika masyarakat katapang dijadikan tentara atau prajurit pembantu jepang yang dikenal dengan KNIL dan HEIHO. Semua pemuda katapang dipaksa untuk menjadi prajurit jepang. Beberapa orang diantara pemuda katapang sampai dipercayakan memimpin pasukan KNIL dan HEIHO. Hikma positif yang menguntungkan pada Jaman pemerintahan jepang atau era pendudukan Jepang di Katapang adalah makin baiknya hubungan komunikasi karena pemerintah jepang membangun sebuah pemancar penerima siaran radio dan memfaslitasi beberapa pasukan mereka dengan pesawat radio. Sehingga secara diam-diam pemuda katapang yang tergabung dalam pasukan HEIHO mulai mengikuti pergerakan perjuangan para pejuang indonesia yang ada di Bagian Barat dengan membentuk pasukan PETA. Pasukan PETA kemudian masuk dalam barisan jepang sebagai mata-mata. Hati-hatinya pergerakan pasukan PETA membuat jepang tidak mampu membaca pergerakan mereka.
Salah satu pemimpin besar PETA yang terselubung di balik nama besar HEIHO yaitu Muhammad Noer yang merupakan Kepala Kampung Katapang dan merupakan tokoh perintis kemerdekaan di Maluku bersama Wem Lewaru (Waai) dan Ye Hasan (Luhu). Mereka menjadi sebagain tokoh yang menjadi tongkat pergerakan kemerdekaan di Maluku yang sampai sekarang terkubur bersama sejarah perjuangan mereka, hanya Wem Lewaru yang masih diabadikan namanya sampai sekarang. Tahun 1944 Muhamad Noer diberi tugas yang sangat besar oleh Presiden Pertama yaitu menjalankan sebuah misi rahasia. Kemudian beliau memerintahkan 4 orang pemuda yang tergabung dalam anggota PETA untuk menjalankan misi rahasia tersebut. Mereka adalah Abdurahman (katapang), Arsad Katapang (Katapang), Djabir (katapang), Amei (keturunan cina). Mereka di perintahkan untuk menukar senjata di Manila Piliphina. Dengan perahu Kora-Kora dan bermuatan kelapa Kopra mereka berlayar menuju Manila mendekati perbatasan Manila Piliphina Presiden Soekarno bersama Kapal Selam mendekati mereka dan mengajak mereka berfoto dan memberikan Bendera Merah Putih dan pesan-pesan cara mereka ke manila. Setelah Presiden Soekarno meninggalkan mereka selang beberapa jam kemudian muncul sebuah kapal derek. Kapal tersebut kemudian menarik mereka sampai ke Manila Piliphina. Sesampainya di Manila mereka sangat bingung dengan penyambutan yang dilakukan pada mereka, kemudian penukaran kelapa kopra dan senjata dilakukan tanpa banyak negosiasi yang dibangun. Setelah selesai proses penukaran kemudian mereka kembali ke Indonesai (Maluku) dengan muatan senjata ratusan pucuk dan peluru ratusan peti. Sampai di Sulawesi Utara (Manado) mereka diberitahukan kalau misi mereka telah diketahui pihak jepang sehingga senjata yang mereka bawah dari manila untuk para pejuang PETA di Maluku harus mereka tinggalkan di Manado.
Setelah semua barang yang dibawah ditinggalkan di Manado kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Maluku. Mamasuki pulau Ambon mereka digeledah dan ditahan oleh pasukan jepang. Kurang labih 4 bulan mereka di tahan baru kemudian mereka dibebaskan lagi oleh Muhammad Noer sebagai komandan HEIHO dan PETA pada saat itu. Mereka kemudian kembali ke Katapang dengan hanya membawa pemberian dari Presiden Soekarno yang mereka sembunyikan rapat didalam kapal. Itulah bendera pertama yang masuk di Katapang dan diberikan langsung oleh presiden Pertama Indonesia. Perjuangan mereka terus berlanjut setiap ada pergerakan perjuangan para tokoh katapang telah siap siaga. Pada waktu-waktu tertentu Muhammad Noer sering berkomunikasi dengan kapal-kapal selam pejuang yang berlalu lalang di laut Katapang. Komunikasi yang dibangun adalah gerakan-gerakan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
 Adanya komunikasi perjuangan inilah yang membangkitkan semangat nasionalis pejuang Katapang. Namun pada waktu itu perjuangan yang mereka lakukan hanyalah sebatas pemberian informasi tentang kekuatan dan kelemahan tentara jepang. 17 Agustus 1945 setelah proklamasi kemerdekaan tentara jepang menyampaikan kekesalannya kepada masyarakat katapang bahwa “kalian telah merdeka”. Hal ini belum serta merta mereka umumkan kemerdekaannya. Sehari kemudian tepatnya tanggal 18 agustus 1945 memanfaatkan kebingunan tentara jepang pada saat itu, kemudian mereka mengibarkan Bendera Merah Putih yang pertama. Selama beberapa jam dengan pengawalan ketat. Bendera merah putih yang pertama dikibarkan ini kemudian disimpan dengan baik. Tahun 1949 tepatnya tanggal 17 agustus pengibaran kedua dilakukan. Bendera ini kemudian disimpan (ditanam) pada tahun 1950 disaat terjadi pembantaian masyarakat Katapang oleh pasukan separatis RMS (Baret) sampai kini belum diketahui keberadaannya. Mengetahui bendera pemberian beliau pada pejuang Katapang telah hilang kemudian Presiden Soekarno mengirimkan penggantinya (duplikat bendera pusaka) dan masih terpelihara sampai sekarang.
Setelah proklamasi kemerdekaan RMS pada 25 April tahun 1950 di Maluku, tanggal 2 Mei 1950 Muhammad Noer Menerima berita dari Jakarta Bahwa Akan dikirim pasukan marinir untuk memberantas gerakan separatis RMS di bumi Maluku. Mereka dikirim dengan menggunakan kapala perang milik TNI angkatan laut. Mendengar berita tersebut Muhammad Noer meminta masyarakat katapang untuk bersiap-siap menyambut pasukan TNI dari Jakarta. Masyarakat katapang kemudian bersiap-siap melakukan penyambutan. Apa yang mereka bisa lakukan telah mereka siapkan diantaranya mencari ikan, ambil kelapa muda, dan penjamuan sekadarnya. Tidak hanya itu penjagaan malampun mereka lakukan karena kwatir adanya penyusup yang masuk menyerang. Sejak tanggal 9 Mei 1950 masyarakat katapang telah bersiap-siaga namun belum muncul juga kapal yang meraka nantikan. Sehingga kelapa yang mereka seiapkan sudah beberapa kali dimakan dan diganti, ikan dan makanan lain mereka makan dan menggantinya. Sampai tanggal 13 Mei 1950 baru kapal tersebut muncul dan berlabuh di Katapang. KRI Rajawali dibawah pimpinan Laksamana Jhon Lie (keturunan Cina) dan KRI Hang Tuah dibawah pimpinan Mayor Simanjuntak yang sandar di katapang.
Kapal ini dapat sandar dan berlabuh di laut katapang setalah mendapat kode dari Kepala Kampung Katapang Muhammad Noer. Kode atau tanda yang disampaikan oleh Muhammad Noer adalah dengan mengibarkan dua buah bendera merah putih kecil dengan pangjang sekitar 10cm. Ketika kapal tersebut terlihat jelas dengan teropong yang dimilikinya, kemudian Muhammad Noer mengeluarkan dua buah bendera kecil dari dalam bambu lalu mengibarkan dua bendera kecil itu didepan dadanya. Hal ini dilakukan agar teropong kapten kapal dapat melihat kode tersebut. Kode ini telah diatur sebelumnya sebelum kapal ini mendarat di katapang sehingga masing-masing telah mengetahui perihal kode yang nantinya diberikan. Masyarakat katapang sangat senang dan gembira menyambut datangnya dua buah kapal ini. Kegembiraan ini meraka apresiasikan dengan naik dan bermain di kapal tukar menukar makanan dengan TNI. Kedatangan kapal ini kemudian dilaporkan oleh mata-mata separatis RMS di lokki kepada Pasukan RMS di Piru. Karena kelelahan saat penjamuan dengan para TNI yang datang, pada malam itu masyarakat Ketapang tertidur dan tidak melakukan penjagaan di perbatasan kampung. Pada pukul 4.00 WIT pagi sebelum sholat subuh puluhan pasukan RMS telah tiba di Katapang. Seorang pemuda yang mengetahui kedatangan pasukan RMS lalu berlari untuk membangunkan masyarakat. Namun usaha yang dilakukannya sudah sangat terlambat ketika di berteriak “hoe Ora-ora kampo bangu ada tuki-taka di balaka kampo mau bila anji buka anji mau bila babi buka babi” (hai orang-orang kampung bangunlah ada suara tak-tik di belakang kampung mau bilang anjing sepertinya bukan anjing mau bilang babi sepertinya juga bukan babi) saat itu puluhan pasukan RMS telah mengepung sampai ke dalam kampung dengan peralatan senjata yang lengkap. Pemuda itu kemudian ditangkap dan disayat mulutnya hingga ke telinga.
Pagi itu seekor ayampun tidak berani berkokok, hanya terdengar suara tembakan yang mengaung menggantikan suara azan subuh. Semua rumah digeledah untuk mencari bukti-bukti perjuangan masyarakat Katapang, bendera merah putih pemberian Presiden Soekarno dicari untuk dimusnahkan. Semakin brutal pembantaian mereka karena tidak satupun bukti yang bisa mereka peroleh. Semua orang diminta keluar yang berlari ditembak ditempat, yang menangis ditembak ditempat. Setiap yang keluar harus diam dan berjalan ketempat pertemuan sesuai arahan mereka. Tidak dibolehkan membuat gerakan yang mencurigakan, puluhan nyawa melayang di pagi itu, rumah-rumah dibakar tidak satu orangpun yang boleh menangis. Bapak, ibu, nenek atau kekekmu yang tertembak tidak perlu ditangisi semua masyarakat pemuda dan pemudi diperintahkan untuk berpesta, berpesta di antar korban-korban yang berserakan. “Ambil tipa” kata mereka “pukul tipa” kata mereka “ayo semua menari kalau tidak mau mati” kata merka pula. Semua masyarakat hanya bisa pasrah atas tindakan para separatis RMS di pagi itu.
Semua masyarakat yang hidup dikumpulkan disebuah tanah lapang kecil di dekat pantai, kemudian mereka menyuruh para mata-mata untuk mengenali tokoh-tokoh pejuang katapang. Setiap mereka yang ditunjuk oleh mata-mata kemudian dipisahkan ke lokasi samping sabuah (balai desa)  batang kelapa untuk dieksekusi, hanya sepenggal kalimat yang diutarakan sebelum mereka menembak (pesta di kapal Rajawalie, isap roko eskore, makan biskuite) hanya kelimat itu yang diucapkan sebelum mereka tembak setiap orang. Korban semakin banyak yang berjatuhan, pemuka dan tokoh-tokoh pejuang sudah banyak yang dibantai. Yang terbantai dibiarkan saja tidak boleh ada yang mengurusi biarkan semua bergelimpangan. Sungguh sebuah pembantaian yang sadis dan tidak berperikemanusiaan. Puluhan nyawa telah melayang hingga seorang komandan RMS asal maluku tenggara hendak menembak salah seorang masyarakat katapang (Renhoat) yang juga asal Maluku Tenggara lalu beliau berteriak menggunakan bahasa daerah mereka dengan kencangnya “neno mata kita” (mama beta mati juae). Serentak komandan itu kaget dan berkata kepadanya kanapa kamu dari tadi tidak bilang dari tadi saya tanya kamu tidak jawab. Kemudian komandan bertanya dimana lai ada orang katong (dimana lagi ada suku kita). Kata Renhoat di atas ada satu orang lai (disebelah barat ada seorang lagi) namanya Farnatubun. Kemudian komandan berlari mengecek orang yang disampaikan oleh Renhoat sesampainya ditempat Farnatubun, Ternyata Farnatubun telah meninggal tertembak. Kemudian sang komandan RMS itu menyesal dan berteriak “Beta sukala, Beta pung orang su mati” (saya sudah kala, orang saya sudah meninggal). Kemudian komandan itu memerintahkan kepada seluruh prajurit RMS pada saat itu untuk berhenti membunuh orang, bila ada lagi yang menembak berarti kita dengan kita akan berperang.  Dari situlah suara senjata mulai tidak terdengar lagi korbanpun tidak berjatuhan, mereka kemudian meninggalkan katapang dengan pesan untuk melapor ke Lokki setiap harinya. Mereka berangkat dengan beberapa orang yang menjadi tawanan salah satunya adalah Muhamad Noer tokoh utama pejuang katapang yang diseret sampai ke piru dan dibunuh di sekitar Hunimua Negeri Liang (Pulau Ambon) kemudian jenasahnya dipindahkan ke Tempat Pemakaman Pahlawan KAPAHAHA Ambon skitar tahun 1990an.
Setelah berjalan beberapa bulan dan ketika RMS dapat diusir dari pulau ambon, RMS kemudian berpindah ke Pulau Seram Piru. Kemudian para pejuang pejuang katapang bergabung dengan TNI untuk menyerang RMS di piru dan bersama-sama TNI hingga penangkapan ketua RMS dr Soumokil, bersama-sama TNI menelusuri semua wilayah dalam upaya penangkapan dr Soumokil. Pada akhir tahun 1950 Soumokil tertangkap kemudian KRI Rajawali dan KRI Hang Tuah kembali ke Jakarta. Ada beberapa pejuang termasuk pejuang Katapang yang ikut bersama dua KRI tersebut.

Tuesday, February 18, 2014

SEJARAH Part 8



Kegiatan Adat dan Budaya Masyarakat Ktapang

1.      Kegiatan Adat

Kegiatan adat kampung katapang yang turun temurun dilakukan atau ditentukan diantaranya adalah sebagai berikut :
      Acara Adat atau ritual adat yang pertama adalah sebagai mana proses adat yang dialami dalam mimpi tentang penemuan kampung oleh Lantabi yang dikukuhkan menjadi kegiatan adat dan dilakukan dalam melaksanakan acara-acara adat di Katapang. Kegiatan adat yang tergambar adalah mereka di antar dengan sebuah ritual adat yaitu dengan menggunakan tampa siri yang diletakan diatas sebua loyang (baki) dan kain putih dan diletakan di atas kepala seorang perempuan kemudian diiringi keliling pulau seram sampai di lokasi kampung Katapang sekarang. Kegiatan adat inilah yang sering dijadikan sebagai acara adat tempo dulu yang dipakai pada kegiatan-kegiatan adat di katapang diantaranya, meminang seorang Kepala Kampung, Kepala Adat, Kepala Pemuda, Mengantar Tiang Alif Mesjid, hingga proses pinangan perempuan untuk menikah masih dilakukan proses adat ini.
      Kegiatan adat selanjutnya adalah pengangkatan Kepala Kampung, Proses pengangkatan kepala kampung di katapang dilakukan berdasarkan cara pengangkatan Sultan Buton pada Kesultanan Buton yaitu para saniri atau orang tua-tua kampung yang meruapakan keterwakilan semua suku di Katapang musyawarah untuk Mengangkat Seorang Kepala Kampung Dari Keturunan La Aru yang diyakini dan teruji Bisa dan Mampu memimpin Katapang.
      Adat selanjutnya adalah setiap pemuka-pemuka adat Kampung herus memiliki jiwa membangung, adil, menididik, menjadi teladan. Khusus untuk para pemimpin kampung atau pemuka-pemuka masyarakat diantaranya Kepala Kampung, Sekretaris, Imam, Modim, Ketua Adat, Kepala Pemuda dan pemuka kampung yang lain wajib memiliki pendamping atau menikah. Barang siapa yang belum menikah atau pernah menikah (cerai) tidak boleh diangkat sampai dia menikah kembali dan apabila telah diangkat dan bercerai baik dicerai atau ditinggal (pasangan meninggal) maka wajib baginya untuk mengundurkan diri dari jabatan yang dia pegang di dalam kampung.
 2.      Kegiatan Budaya
 Kegiatan budaya yang  tetap lestari di Kampung Katapang yang turun temurun dilakukan diantaranya adalah :
Ø      Pela
Ikatan persaudaraan yang merupakan sebuah warisan budaya tanah Raja-raja ini  merupakan sebuah budaya yang terdapat pada setiap daerah di tanah Maluku.
Terdapat berbapa cara pengangkatan pela di maluku, namun ikatan pela yang terjalin di Kampung Katapang antara Kampung Katapang dengan Desa Ariyate adalah ikatan pela yang dibangun berdasarkan sumpah. Ikatan ini terbangun karena kedua pihak pada jaman perjuangan sering bahu-membahu atau saling membantu dan saling menyelamatkan karena masing-masing merupakan tujuan pemusnahan para separatis disaat itu yang ingin memecah belah NKRI. Kapatang sendri sering dibantu dalam pemberian informasi penyerangan pasukan RMS. Setiap ada rencana penyerangan oleh separatis RMS ke Katapang, informasi itu langsung disampaikan oleh masyarakat Ariate kepada masyarakat Katapang untuk dapat mempertsiapkan diri. Sebaliknya pada gerakan separatis DITII pada tahun 1952 masyarakat katapang yang sering memberikan informasi kepada masyarakat Ariate bila ada rencana penyerangan. Kejadian ini berlangsung secara terus menerus sehigga hubungan kekeluargaan antara masyarakat Katapang dan Ariyate menjadi sangat erat sehingga kedua kampung ini sepakat untuk saling mengikat tali persaudaraan lebih erat lagi dengan ikatan budaya adat Maluku yaitu Ikatan PELA.
Prosesi sumpah yang dilakukan pada pengangkatan PELA Katapang–Ariyate merupakan sebuah kegiatan yang sangat sakral dimana kedua belah pihak bersumpah dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing kemudian mengambil darah dari masing-masing pemuka adat lalu ditempatkan dalam sabuah wadah (tempurung kelapa) kemudian di minum, sisa darah tersebut kemudian di tuangkan ke dalam sebuah wadah yang berisi air dan dibagikan kepada seluruh warga kedua belah pihak yang hidup pada saat itu dari orang tua hingga bayi yang baru lahir. kemudian sisanya lagi yang telah tercampur air tadi dimasukan kedalam sumur utama kedua kampung.


Ø      Sodara
Selain pela masyarakat maluku juga mengenal sebuah ikatan keluarga yang disebut gandong yakni sebuah keluarga yang terpisah di masa penjajahan belanda dan membuat kampung sendiri-sendiri.
Ikatan gandong ini dikatapang terjalin bukan kerana adanya ikatan keluarga atau turunan sedara, melainkan ikatan sodara yang di bangun karena adanya sebuah keinginan untuk membangun ikatan sodara dimaksud. Adalah ikatan sodara antara Negeri Seri (P. Ambon) dengan Masyarakat Katapang pengangkatan sodara ini terjadi karena masing-masing merasa berhutang satu sama lain yang mana seri merasa hutang terhadap masyarakat katapang atas bantuan masyarakat katapang menyediakan perlengkapan (kayu) pada saat mereka (masyarakat seri) membangun tempat peribadatan mereka (gereja) beritu juga sebaliknya hurtang masyarakat Katapang terhadap Masyarakat Negeri Seri.
Ø      Pagelaran
Beberapa pagelaran seni dan budaya yang terpelihara pada masyarakat katapang sungguh beragam dan tetap dilesterikan namun karena kurangnya biaya sehingga ada beberapa pegelaran yang belum terealisasi kembali. Dianta pagelaran seni yang terdapat di katapang adalah sebagai berikut :
·           Seni
§         Tari sawat
Tari sawat merupakan sabuah kegaitan budaya masyarakat katapang yang hampir punah, hal ini terjadi karena perlengkapan sawat yang dimiliki sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi dan sebagian besar sudah hilang.

§         Hadrat
Hadrat merupakan kegiatan budaya masyarakat katapang yang masih terjaga dan masih dilestarikan hingga saat ini, walau nuansa keseniaannya yang sudah sangat jauh dari keasliannya.

§         Tarian eja-eja (cakalele)
Tarian eja-eja adalah salah satu tarian budaya yang menarik di masyarakat katapang. Tarian ini merupakan perpaduan antara kebudayaan buton dan kabudayaan maluku. Dulu tari ini sering diperagakan untuk penyambutan tamu.

§         Tarian Alionda (tari penyambutan tamu)
Tarian alionda adalah salah satu tarian budaya yang menarik di masyarakat katapang. Tarian ini merupakan sebuah tarian yang diangkat dari kebudayaan buton dan dipadukan dengan kebudayaan Maluku. Tari ini diperagakan oleh beberapa orang gadis untuk acara penyambutan tamu kebanyakan tari ini dipentaskan di luar ruangan.

§         Tarian Saride (tari penyambutan tamu)
Samahalnya dengan Tarian alionda, tarian Saride adalah salah satu tarian budaya masyarakat katapang. Tarian ini merupakan sebuah tarian yang diangkat dari kebudayaan buton dan dipadukan dengan kebudayaan Maluku. Tari ini diperagakan oleh beberapa orang gadis untuk ucapan selamat datang kebanyakan tari ini dipentaskan di dalam ruangan.

·          Olahraga
§         Pencak Silat
Pencak silat adalah sebuah kegiatan budaya masyarakat sejak dulu yang tetap dilestarikan. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat lebaran idul adha.

§         Manggurebe arombai
Manggurebe aromai adalah sebuah kegiatan budaya masyarakat katapang yang telah dilupakan. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan pada saat lebaran idul fitri. Kegaitan ini pada mulanya dilaksanakan karena adanya persaingan antar nelayan pada saat itu. Persaingan adalah arombai  (perahu) siapa yang paling cepat. Kemudian pada setiap lebaran idul fitri para pemilik arobay selalu melaksanakan lomba manggurebe arombai. Yang unik di acara ini adalah bukan karena pemenang tapi melaikan teknik dayung karena dayung harus dengan aturan yaitu suara dayung harus menarik antara pedayung satu dengan pedayung lainya.

·           Sirau
Sirau merupakan sebuah kegiatan budaya turun temurun yang telah dilaksanakan oleh masyarakat. Sirau adalah kegiatan atau acara yang dilaksanakan pasa saat seorang perempuan yang baru saja menikah memasuki rumah keluarga suaminya.

·           Baku Kasmakang
Kegiatan budaya ini merupakan salah satu kegiatan budaya yang langkah sekarang di masyarakat. Baku kasmakan merupakan sebuah kegiatan budaya yang dilakuan oleh seorang Ipar kepada Iparnya. Contohnya bila seorang keluarga istri secara tidak sengaja mengatakan kepada suami saudara mereka (ipar) atau seorang keluarga suami secara tidak sengaja mengatakan kepada istri saudara mereka, bahwa “wah durian itu sepertinya enak” atau “sudah lama saya tidak makan durian”. Ipar yang mendengar hal itu bisanya secara tiba-tiba datang kerumah membawakan durian kepada keluarga suami/istrinya itu dan disuruh makan sampai seluruhnya habis, biasanya sambil makan orang yang dikasimakan biasanya dimanjakan, didandan (pria/wanita). Bila makanan yang dibawah bisa dihabiskan maka, dia bebas tanpa menanggung biaya dari seluruh makanan yang di sediakan, namun kalau makanan yang disediakan tidak sanggup dihabiskan, maka dia wajib mambayar seluruh makanan yang disediakan termasuk denda 2x-5x lipat dari harga sebenarnya.

·           Baku sapu muka
Kegiatan budaya baku sapu merupakan sebuah kegiatan budaya yang tidak terlhat lagi sampai sekarang. Kegiatan ini biasa dilaksanakan pada saat hajatan perkawinan atau acara adat. Setelah selesai acara adat atau perkawinan, para masyarakat biasanya melaksanakan kegiatan ini yaitu, peralatan masak-memasak yang belum dicuci (dandang, kwali, panci) yang masih hitam dengan arang api kemudian digosok di tangan yang sebelumnya telah dilumuri minyak kelapa kemudian di sapu pada siapa saja yang terjangkau olehnya. Setiap orang mencari korbannya sehingga kampung menjadi ramai karena orang saling kejar mengejar, tidak hanya itu acara ini kemudian dilanjutkan dengan siram-menyiram bahkan ada yang dilempar ke air laut.
 

Monday, February 17, 2014

CIKAL BAKAL TERBENTUKNYA KAMPUNG KATAPANG



CIKAL BAKAL TERBENTUKNYA KAMPUNG KATAPANG


Masuknya islam di Bagian Timur Indonesia khusunya di Sulawesi dan Maluku melalui kesultanan Buton dan Kesultanan Ternate merupakan cikal bakal terbentuknya kampong katapang.  Pada tahun 1540  ketika kerajaan buton dijadikan kesulatanan dengan nama kesulatanan buton dan dipimpin oleh Sultan pertama yaitu Sultan Lakilaponto  Murhum Sultan Kaimuddin Khalifatul Khamis beliau berkeinginan untuk memperluas ajaran islam sampai ke pulau-pulau bagian timur. Karena mayoritas masyarakat kesultanan buton berprofesi sebagai pelaut, maka mereka pung mengetahui pulau-pulau yang berada di bagian timur termasuk Maluku, Papua dan Timur-timur. Dimasa kepemimpinannya, sultan pertama ini kemudian mengutus beberapa orang ahli agama pada saat itu mencari informasi sekaligus menyirakan agama islam di Maluku. Utusan-utusan ini kemudian berangkat menuju Maluku,  kemudian mereka singga di Maluku Utara dan kemudian ke pulau seram. Dipulau seram sendiri mereka membagi tugas dan kelompok mereka menjadi beberapa kelompok yang masing-masing ke bagian barat dan timur. Di kesultanan Ternate sendiri islam telah ada sejak tahun 1465 namun masih kalangan raja yang telah menganut agama islam, di tahun 1500 dibawah kepemimpinan Sultan Bayanullah barulah islam semakin berkembang di Moloko Kie Raha - Maluku Utara. Ditahun ini pula datang bangsa portugis ke Maluku awal kedatangan bangsa protugis dirasakan sangat membantu perkenomian di wilayah ini namun seiring berjalannya waktu tingkah laku portugis mulai menjadi dan membuat masyarakat menjadi muak dan marah atas bangsa itu. Pada puncaknya di tahun 1571-1575 di bawah kepemimpinan Sultan Babulah seluruh pos-pos Portugal di seluruh Maluku dan wilayah timur Indonesia digempur, setelah peperangan selama 5 tahun, akhirnya Portugal meninggalkan Maluku di tahun 1575. Tahun 1570-an dibawah kepemimpinan Sultan Babulah inilah cikal bakal terbentuknya kampung katapang. Gerakan perlawanan terhadap bangsa portugis hingga ke seluruh pelosok negeri termasuk Pulau Seram membuat kesultanan ternate harus menyebarkan pasukan mereka ke segala penjuru termasuk membantu kerjaan huamual di Seram Barat. Dalam pasukan yang disebarkan ini terdapat juga beberapa utusan kesultanan buton yang telah lama berkedudukan di Ternate. Demi untuk mewujudkan niat mereka membawa ajaran Islam, maka bereka mingikuti pasukan kesultanan ternate untuk ke pulau seram. Sehingga pasukan ini mulai menetap di katapang pada tahun 1570-an. Setelah protugis hengkang dari Maluku di tahun 1575 sebagian besar pasukan kesultanan ternate kembali ke kesultanan ternate dan sebagian kecil dari mereka tinggal untuk melihat perkembangan yang terjadi beberapa tahun kedepan termasuk beberapa putra utusan kesultanan buton. Kala itu belum dibangunan suatu perkampungan, mereka tinggal dan menetap di daerah pegunungan karena khawatir keberadaan mereka diketahui oleh bangsa protugis. Tahun 1560 datang lagi beberapa orang perantau yang ditugaskan menyiarkan agama islam dari kesultanan buton. Kemudian mereka singgah di katapang yang belum memiliki nama pada saat itu hanya berbentuk sebuah tempat persinggahan. Kemudian mereka mebanguan tempat tinggal berasama-sama dan menetap di lokasi tersebut sampai mereka di panggil kembali oleh kesultanan ternate dan buton karena terjadi peperangan dengan spanyol pada tahun 1580. kehidupan yang dibangun dikatapang pada saat itu hanyalah sebagai sebuah tempat persinggahan sehingga kapan saja mereka bisa datang dan pergi.


Pada tahun 1599 mereka tidak menetap hanya datang dan pergi sesuai kepentingan yang dijalankan hingga pada sekitar tahun 1607 ketika belanda berhasil mendirikan benteng di Ternate Maluku Utara dan menjalankan misi pengkristenan membuat  utusan kesultanan buton bersama-sama dengan separuh pasukan kesultanan ternate yang berjumlah kurang lebih 15 orang tinggal di daerah itu dalam waktu yang cukup lama tahun 1607 – 1625 aktifitas yang dilakukan waktu itu hanyalah berjalan berdakwa. Dengan perahu kora-kora yang di bawah dari kesultanan masing-masing mereka mampu bergerak kemana saja sesuai dengan petunjuk yang diterima. Kejadian datang dan pergi ini kemudian berulang kembali sampai pada akhir tahun 1700 kurang lebih tahun 1780an kemudian mereka hengkang. Tidak satupun yang datang lagi, yang tinggal hanyalah tokoh-tokoh agama para mujahid yang sahid dan dikuburkan disana. Kuburan-kuburan itulah yang dikenal dengan Karamat Dulang oleh masyarakat kampong katapang. Anak cucu dari mereka inilah yang kemudian mendirikan kampong katapang hingga sekarang.
Salah satu bukti nyata yang dapat kita lihat sekarang adalah ahli atau tokoh agama yang meninggal dan dikuburkan pada keramat dulang skitar tahun 2008 datang menemui anak cucunya lewat sebuah mimpi. Beliau berpasan kepada anak cucunya untuk mengambil barang-barang peninggalannya yang disimpan dibekas tempat tinggal mereka dulu yakni di karamat dulang.  Namun sayangnnya beliau tidak sempat menyebutkan namanya. Dan barang peninggalnnya masih ada dan disimpan sampai sekarang. Ini membuktikan bahwa antara jenasah para mujahid di keramat dulang masih ada hubungan keturunan dengan masyarakat katapang sekarang ini.


Inilah sepenggal kisah yang pernah diceritakan orang tua dulu yang sempat di dokumentasikan. Semoga dapat menambah informasi bagi generasi selanjutnya di Katapang.

Diceritakan oleh :

  1. H. Taher Bin La Ambo dari La Ambo
  2. Hasan Sangaji dari H. Haming Sangaji, H. Taher Bin La Ambo
  3. Abdul Gani Sangaji dari H. Haming Sangaji
  4. H. Djabir dari H. Marhaban, La Gusi
  5. H. Saiwa dari La Saidi
  6. M. Kasim Sangaji dari H. Haming Sangaji, H. Marhaban, H. Saiwa
  7. Usman Bin Ahmar oleh Usman
  8. Syukur La Isa
  9. Taher Silow

Referensi lain :
Sejarah Kesultanan Buton
Sejarah Kesultanan Ternate

Terbentuknya Kampung Katapang par - 1

Terbentuknya Kampung Katapang (part 1)

            Tahun 1852 katapang mulai berdiri yang diawali oleh empat orang perantau asal Pulau Buton, mereka berempat berlayar dari pulau buton dengan menggunakan perahu kora-kora yang biasa digunakan masyarakat pada zaman itu. Dibawah kepemimpinan Lantabi dan La Ode Ito, pelayaran mereka sampai di kepulauan Maluku dan singgah di Pulau Seram pada daerah huamual belakang tepatnya daerah sekitar Waisala. Setelah beberapa bulan menetap di daerah itu, suatu malam Lantabi bermimpi kalau beliau beserta ketiga rekannya diantar mengelilingi pulau seram dilengkapi dengan kain putih dan tempat siri yang ditaruh diatas kepala seorang perempuan dan dialasi loyang (baki), mereka diantar melewati sebuah tanjung (tanjung sial) dan berhenti pada suatu tempat dimana tempat itu tepat berada dibawah sebuah pohon. Beliau sendiri tidak mengetahui pohon apa yang menjadi tempat berhenti mereka namun suasana sekeliling lokasi tempat mereka diberhentikan masih terbayang jelas dalam pikirannya karena ada sebuah bukit kecil arah barat pohon tersebut yang sangat khas dalam pandangannya.
Karena masih meragukan apa yang dimimpinya semalam, membuat Lantabi tidak langsung menceriterakan kejadian itu pada tiga orang rekannya karena khawatir mereka tidak percaya. Suasana dikemudian hari biasa-biasa saja antara keempat orang tersebut namun dalam benak Lantabi masih menyimpan sebuah pertanyaan tentang mimpinya di malam itu. Beberapa hari kemudian saat tertidur Lantabi bermimpi beliau dan ketiga orang rekan beliau diantar dengan kain putih dan sebuah tempat siri keliling pulau sampai melewati sebuah tanjung dan berhenti pada suatu daerah/tempat sama persis dengan kejadian atau mimpi yang pernah dia alami beberapa hari lalu.
Keesokan harinya Lantabi berpikir akan mimpinya kemudian mengambil sebuah keputusan untuk bercerita pada ketiga orang rekannya tentang mimpinya itu. Di hari itu juga Lantabi memanggil tiga orang rekannya dan berceritera perihal kejadian mimpi yang dialaminya. Mereka bertiga antara lain La Ode Ito dan dua orang rekan yang namanya sampai sekarang tidak diketahui karena keturunannya di Desa Katapang tidak ada karena mereka meninggalkan Desa katapang sebelum mempunyai keturunan. Kemudian Lantabi menceriterakan kejadian mimpinya itu kepeda ketiga orang rekannya dan ketiga orang rekannya tersebut meresponi apa yang baru saja diceriterakan rekan mereka tersebut. Mereka pada awalnya tidak mempercayai apa yang diceriterakan itu namun karena mimpi itu sudah dialami lebih dari sekali dan sama kejadiaanya barulah mereka percaya dan sama-sama sepakat untuk mencari tempat yang muncul dalam mimpi rekan mereka itu. Peristiwa ini sama halnya dengan kehidupan manusia tempo dulu yang selalu berpindah-pindah tempat tinggal untuk mencari sebuah tempat yang lebih aman.
Setelah mendengar ceritera tersebut dan sepakat untuk sama-sama mencari lokasi dimana tempat mereka dibawah, kemudian mereka merencanakan perjalanan dengan membuat perbekalan seadanya untuk menemani perjalanan mereka. Dalam perjalanan setelah melewati tanjung sial ada beberapa tempat yang mereka singgahi dan berfikir sebagai tempat dimana mereka diantar namun kondisi sekelilingnya berbeda dengan yang terlihat dalam mimpi Lantabi. Karena tempat yang disinggahi bukanlah tempat yang mereka cari akhirnya merekapun melanjutkan perjalanan. Sampai di daerah Desa Luhu yang waktu itu belum ada pemukiman di daerah pantai mereka berhenti lagi dan bertanya kepada Lantabi tentang lokasi yang ada dalam mimpinya, namun Lantabi mengatakan bahwa daerah ini belum terlalu sama persis dengan apa yang terlihat dalam mimpinya.
Tidak terasa mereka telah menempuh perjalanan selama sehari semalam (satu malam dua siang), ada rasa putus asa dari dalam diri Lantabi sehingga beliau meminta kepada tiga orang rekannya untuk membatalkan perjalanan mereka kerena berfikir bahwa mungkin itu hanya sebuah mimpi yang tidak mungkin terjadi di alam nyata. Setelah disampaikan maksud hatinya kepada rekan-rekan beliau perihal keputusasaan beliau, ketiga rekannya malah memberikan semangat agar beliau tidak putus asa. (bersambung)......

BACA JUGA :
            3. Sejarah Part - 3

TERBENTUKNYA KAMPUNG KATAPANG Part - 2


Terbentuknya Kampung Katapang (part 2)



Perjalanan merekapun dilanjutkan kembali dan beberapa kali singgah namun tetap saja tidak sama persis dengan lokasi yang terlihat dalam mimpi Lantabi. Lamanya perjalanan mambuat mereka putus asa dan kelelahan dalam suasana yang tidak terduga itu antara putus asa dan kelelahan mereka berteduh dan beristirahat dibawah sebuah pohon. Mereka sampai tertidur sejenak, ketika mereka terbangun dan kemudian berencana untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka, timbul suatu rasa lain dalam hati keempat orang tersebut namun masing-masing tidak serta-merta mengeluarkan perasaan yang mengganjal di hati mereka masing-masing. Mereka berempat menjadi heran selama perjalanan dan peristirahatan tidak pernah mereka tertidur kecuali waktu malam tapi siang itu lain dari biasanya. Dalam pikiran yang membingungkan ini salah satu dari dua rekan yang tidak diketahui mereka itu menyerukan kepada ketiga rekannya terutama kepada Lantabi untuk mengecek lokasi yang sedang mereka singgahi ini karena ada perasaan yang lain dari biasa dalam dirinya. Kemudian ditanggapi juga oleh ketiga rekannya yang sama-sama merasakan suasana lain dari setiap tempat yang pernah mereka singgahi. Lalu mereka menyerukan Lantabi untuk melihat suasana sekeliling lokasi yang sementara menjadi tempat peristirahatan ini. Lantabi lalu melihat-lihat sebatang pohon ketapang yang digunakan mereka untuk berteduh, bentuknya yang tidak asing dalam penglihatan beliau namun belum terlalu meyakinkan hati. Setelah melihat pohon tersebut kemudian Lantabi naik ke atas pohon itu dan melihat suasana sekeliling. Beliau terkejut karena dalam perasaannya lokasi ini pernah dilihat sebelumnya tapi belum terpikirkan kalau sebenarnya lokasi inilah yang sering muncul dalam mimpinya.
Merasa heran dengan apa yang baru saja Lantabi lihat beliaupun menceriterakan kepada tiga orang rekanya. Merekapun bertanya dan menyerukan kepada Lantabi untuk mengingat lokasi yang dilihat dalam mimpinya kemudian mencocokan dengan tempat yang sementara mereka singgahi. Setelah membayangi kembali lokasi yang hadir dalam mimpi beliau, kemudian beliau kembali melihat-lihat sekeliling lokasi, namun tetap saja masih ada keraguan dalam hatinya, walaupun dalam perasaan beliau tempat ini pernah dilihat sebelumnya. Ketiga rekannya merasa heran dengan apa yang dialami oleh Lantabi dan untuk ketiga kalinya menyerukan kepada Lantabi untuk lebih teliti terhadap lokasi ini, lalu kemudian Lantabi berdian sejenak sambil memantapkan hati dan bayangan mimpinya lalu melihat-lihat lokasi sekelilingnya dan berkata tanpa ada keraguan lagi dalam hatinya kalau inilah tempat yang mereka cari dimana bentuk pohon yang agak miring ke arah pantai dan sebuah bukit kecil diarah barat pohon tesebut. Kemudian mereka bersorak dan berdoa atas keberhasilannya ini karena sempat membuat mereka putus asa dan membatalkan niat mereka.
Karena tempat yang dicari telah ditemukan, mereka berjanji untuk mendirikan perkampungan di tempat itu. Namun karena tempat yang mereka tinggal sekarang dalam keadaan baik serta perkebunan yang mereka buat di tempat tinggal pertama masih dalam keadaan baik pula sehingga sulit bagi mereka untuk secepat ini pindah tempat. Kemudian mereka menyiapkan tempat istrahat sementara, karena hari mulai gelap, tempat istahat yang dibuat sementara iadalah sebagai tempat istrah mereka di malam itu hingga pagi menjalang nanti. Setelah terbangun, tempat tersebut kemudian mereka tanami sebuah tiang sebagai tanda suatu saat mereka akan mendirikan perkampungan. Setelah tiang dipasang dan dipastikan akan mendirikan kampung suatu saat nanti, merekapun bersiap-siap untuk kembali ke tempat mereka sebelumnya. (Bersambung)................
 
BACA JUGA :