Wednesday, November 25, 2015

PROFIL SINGKAT KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT





a. Letak Geografis
Secara Astronomi  Kabupaten    Seram    Bagian    Barat    berada pada 1˚19’ - 1˚16’ LS dan  29˚1’ - 127˚20’ BT dengan batasan sebagai  berikut :

Sebelah Utara    : Berbatasan dengan Laut Seram
Sebelah Selatan    : Berbatasan dengan Laut Banda
Sebelah Barat    : Berbatasan dengan Laut Buru
Sebelah Timur    : Berbatasan dengan Kabupaten Maluku Tengah

b. Luas Wilayah

Luas wilayah Kabupaten    Seram Bagian    Barat    adalah 85.953,40 Km2 terdiri dari :
Luas Daratan   :    6.948,40 Km2 ( 8,08% )
Luas Lautan                : 79.005 Km2 ( 91,92% )
Panjang garis pantai adalah 719,20 km (Hasil Verifikasi Penamaan Pulau LAPAN – Bakorsutanal, 16
Juli 2007)

Secara administrasi Kabupaten Seram Bagian Barat terdiri 11 (Sebelas) Kecamatan, 92 (Sembilan Puluh Dua) Desa dan 115 (Seratus Lima Belas) Dusun. Jumlah Penduduk  kabupaten Seram Bagian Barat berdasarkan data BPS Kab. Seram Bagian Barat tahun 2015 adalah 180.256 Jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,58 persen.

c. Karateristik Wilayah

Wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat secara umum dikelompokan menjadi 5 (lima) kawasan yaitu :
1.          Kawasan pertanian lahan basah meliputi kecamatan Kairatu  (Desa Waimital dan Waihatu) dan Kecamatan Seram Barat (Desa Kawa). Kawasan Lahan kering meliputi hampir seluruh wilayah Kecamatan Seram Barat, Taniwel dan Kecamatan Kairatu.
2.          Kawasan Perikanan yaitu seluruh Kecamatan Waesala, Kecamatan Seram Barat (Eti, Kaibobo, Ariate) dan Kecamatan Huamual.
3.          Kawasan Pemukiman meliputi hamparan dari Piru-Eti dataran Huamual di Kecamatan Seram Barat dan Dataran Waeruapa di Kecamatan Kairatu yang menghubungkan Pulau Seram danKota Provinsi serta Pulau-pulau sekitarnya.
4.          Kawasan Pegunungan meliputi Kecamatan Kairatu dan Hunitetu  (Desa Hunitetu, Rambatu, Rumberu, Manusa, Hukuanakota, Huku kecil, Watui, Abio, Buria, Riring dan Ahiolo, ohiasapalewa, Neniari,    Rumahsoal,    Laturake)    yang    merupakan    potensi pengembangan komoditi dataran tinggi (Sayuran, buah-buahan)
5.          Kawasan Pantai yaitu meliputi hampir seluruh kecamatan dengan potensi budidaya Perikanan dan Pariwisata.

d. Daftar Kecamatan

Kabupaten ini berasal dari hasil pemekaran kabupaten Maluku Tengah yang terdiri dari:
  1. Kecamatan Huamual Belakang  (Profil Singkat Kec. Huamual Belakang)
  2. Kecamatan  Kep. Manipa           (Profil Singkat Kec.Kep. Manipa)
  3. Kecamatan Seram Barat             (Profil Singkat Kec. Seram Barat)
  4. Kecamatan Huamual                  (Profil Singkat Kec. Huamual)
  5. Kecamatan Kairatu                     (Profil Singkat Kec. Kairatu)
  6. Kecamatan Kairatu Barat           (Profil Singkat Kec. Kairatu Barat)
  7. Kecamatan Inamosol                  (Profil Singkat Kec. Inamosol)
  8. Kecamatan Amalatu                   (Profil Singkat Kec. Amalatu)
  9. Kecamatan  Elpaputih                (Profil Singkat Kec. Elpaputih)
  10. Kecamatan Taniwel                    (Profil Singkat Kec. Taniwel)
  11. Kecamatan  Taniwel Timur        (Profil Singkat Kec. Taniwel Timur)

e. Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Seram Bagian Barat pada pendataan terakhir tahun 2013 (sumber : BPS Kabupaten Seram Bagian Barat) sebesar 180.256 jiwa yang terdiri dari : Laki-laki 92187 Jiwa dan Perempuan 88.069 jiwa

f. Pendidikan

Sarana dan parasara pendidikan di Kab. SBB berdasarkan data Dinas Pendidikan, jumlah SD/MI teridentifikasi sebanyak 93.70 buah dengan jumlah murid sebanyak 30.487 orang dan tenaga guru sebanyak 2.475 orang (Rasio Guru dan Murid 1 : 20). Jumlah MTs/SMP sebanyak 58.52 buah dengan jumlah murid 13380 orang dan jumlah guru 1797 orang (Rasio Guru dan Murid 1 : 14). Jumlah SMA/SMK sebanyak 72.92 unit dengan jumlah guru 649 orang dan jumlah siswa 5.762 orang (Rasio Guru dan Murid 1 : 20)

g. Keagamaan

Sesuai amanat Undang-Undang Dasar, dalam mendukung pemeluk agama menjalankan agama yang dianutnya maka perlu disediakan fasilitas peribadatan sesuai jenis agama yang dianut masyarakat SBB. Agama yang dianut masyarakat SBB adalah Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik. Jumlah fasilitas peribadatan sampai saat ini, Masjid 156 buah, 59 Lanngar/Surau/Mushala, 79 Gereja Kristen Protestan, 4 Gereja Kristen Katolik.

 

h. Kesejahteraan Sosial

Data jumlah penduduk miskin di Kab. SBB, berdasarkan data Seram Bagian Barat Dalam Angka tahun 2015 tercatat sebanyak (23.80%) Rumah Tangga Miskin.

i. Kesehatan

Indikator status kesehatan masyarakat menunjukkan pelayanan kesehatan masih memerlukan upaya pemerataan, perbaikan, maupun peningkatan. Jumlah prasarana kesehatan pada 2013 terdiri dari 1 buah Rumah Sakit, 5 unit Puskesmas Rawat Inap, dan 12 buah Puskesmas Rawat Jalan serta 57 buah Puskesmas Pembantu. Sedangkan jumlah tenaga paramedic sebanyak 81 orang dan paramedic sebanyak 400 orang.

 

j.  Kondisi Sosial

1.  SDA

a. Perikanan dan Kelautan

Prospek perikanan di Seram Bagian Barat dari tahun ke tahun semakin menjanjikan. Hal ini   dapat dilihat dari hasil produksi perikanan yang semakin meningkat. Produksi perikanan tahun 2014 meningkat 392,2 ton atau sebesar 1,61 persen dibandingkan tahun 2013.

b. Pertanian

Sub sektor tanaman bahan makanan merupakan salah satu sub sektor pada sektor pertanian. Sub sektor ini mencakup tanaman padi (padi sawah dan padi ladang), jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kedelai. Luas panen padi sawah pada tahun 2014 seluas 1.324 hektar. Apabila dibandingkan dengan luas panen pada tahun 2013 naik sebesar 3 hektar atau sekitar 0,22 persen. Luas panen padi ladang pada tahun 2014 seluas 142 hektar atau naik sekitar 95,07 hektar apabila dibandingkan luas panen pada tahun 2013. Produksi padi (padi sawah dan padi ladang) tahun 2014 mencapai 6.423 ton, apabila dibandingkan dengan produksi tahun 2013 sebesar 9.049,64 ton turun sekitar 29,02 persen. Produksi padi tahun 2013 mengalami penurunan disebabkan oleh turunnya produktivitas padi sawah.

c. Perkebunan

Sub Sektor perkebunan memiliki kontribusi yang cukup besar dalam pengembangan pertanian. Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan dan perkebunan, pada tahun 2013 sebagian besar produksi hasil perkebunan mengalami penurunan, kecuali tanaman kelapa dan cengkeh. Luas panen tanama perkebunan di kabupaten SBB sebagai berikut tanaman kelapa sebesar 5728 Ha, tanaman cengkeh sebesar 4777 Ha, tanaman pala sebesar 722 Ha. Tanaman coklat sebesar 2991 Ha, tanaman kopi sebesar 8 Ha.

 

d. Pertambangan

Sumberdaya mineral dan energi yang tersedia di daerah ini adalah batu gamping, bahan bangunan, air terjun dan air panas. Batu gamping berumur Mesozoikum dan kwarter umumnya bisa dimanfaatkan untuk bahan industri semen dan bahan bangunan. Batu gamping terdapat cukup banyak di bagian utara Seram Barat, Pulau Boano di sebelah selatan semenanjung Huamual.

e. Transportasi

Panjang jalan di Seram Bagian Barat pada tahun 2014 adalah 753.006 kilometer. Jika dirinci  menurut pengelolanya maka sebesar 27,98 persen diantaranya jalan negara, 13,15 persen jalan propinsi, dan sisanya 58,88 persen jalan kabupaten. Jumlah izin trayek angkutan umum pada tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 1,27 persen dibandingkan tahun 2012. Perhubungan laut di Seram Bagian Barat dilayani oleh 1 pelabuhan. Pelabuhan Penyeberangan Waipirit-Hunimua beroperasi tujuh buah kapal ferry. Pada tahun 2012, sebanyak 238.548 orang, 77.854 kendaraan  roda dua, dan 39.420 kendaraan roda empat menggunakan jasa penyeberangan pelabuhan Waipirit-Hunimua. Jumlah ini meningkat sekitar 6,81 persen dibanding tahun 2011.

f. Kelistrikan

Sarana jaringan listrik masyarakat berasal dari PT. PLN (persero) melalui unit-unit pembangikit tenaga Diesel yang terdapat di Kairatu, Luhu, Piru, Pelayanan penerangannya hampir sebagian besar sudah 24 jam.

g. Pos-Telekomunikasi

Sarana pelayanan Pos dan Giro sebanyak 3 kantor yaitu kantor pos Kairatu, Kantor Pos Waisarisa dan kantor pos piru. Jaringan informasi dirasakan perlu oleh masyarakat, terbukti dengan adanya stasiun telepon seluler yang saat ini telah eksis di semua kecamatan. Intuk informasi masi media televisi sebagai besar masyarakat menggunakan sarana parabola dan sebagian kecil menggunakan antenna UHF yakni wilayah huamual depan.

h. Sarana Ekonomi

Sarana perdagangan berupa pasar sebanyak 7 unit, terdiri dari Pasar Inpres 1 unit yang berlokasi di Piru dan Pasar Tradisional 6 unit yang masing-masing berlokasi di Kecamatan kairatu (Kairatu, Gemba, Waisarissa), Kec. Humual (luhu, Katapang), Kec. Waisala (waisala).

i. Lembaga Keuangan

Lembaga keungan yang ada di Kab. SBB terdiri dari Kantor Cabang Bank Maluku 1 Unit,  Kantor Cabang BRI 3 unit, Kantor Cabang Bank Moderen 1 unit dan Kantor Cabang Bank Danamon 1 Unit. Terdapat 6 buah ATM yang terletak di Desa Piru 3 Unit, Desa Waisarisa 1 Unit dan Desa Gemba 2 Unit.

 

j. Inflasi

Laju pertumbuhan ekonomi Seram Bagian Barat pada tahun 2014 lebih tinggi dibandingkan tahun 2013. Berdasarkan perhitungan PDRB atas dasar harga  konstan 2000, laju pertumbuhan ekonomi Seram Bagian Barat tahun 2014 sekitar 6,16 persen, sedangkan pada tahun 2013 sekitar 5,13 persen. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2013 adalah 1.783 trilyun  rupiah  dan pada tahun 2014 meningkat menjadi 2.024 trilyun rupiah.

PROFIL SINGKAT KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR





A. Geografis

Sebelah Utara        : Berbatasan dengan Laut Seram
Sebelah Selatan     : Berbatasan dengan Laut Banda
Sebelah Barat        : Berbatasan dengan Kabupaten Maluku Tengah
Sebelah Timur       : Berbatasan dengan Laut Arafura
Luas Wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur seluruhnya kurang lebih 15.887,92 Km2 yang terdiri luas laut 11.935,84 Km2 dan luas daratan 3.952,08 Km2. Jumlah sungai besar dan kecil yang langsung bermuara ke laut pada 4 kecamatan sebanyak 29 buah. Jumlah dimaksud belum termasuk anak-anak sungai yang bermuara ke sungai utama. Terdapat 2 sungai besar yang tidak pernah mengalami kekeringan sepanjang tahun, yaitu : Sungai Bobot (lebar lk. 70 M) di Kecamatan Werinama dan Sungai Masiwang (lebar lk. 85 M) yang membatasi Kecamatan Seram Timur dan Kecamatan Bula. (Sumber SBT dalam angka tahun 2014)
Karena secara geografis Kabupaten Seram Bagian Timur terletak di antara Benua Australia dan Benua Asia serta masih dalam kawasan lintang tropis dan dikelilingi oleh laut yang cukup luas, maka iklim yang terdapat di kabupaten ini adalah iklim musim dan iklim taut tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun. Berdasarkan hasil pemantauan di Stasiun Meteorologi Geser Kabupaten SBT pada tahun 2005, ditemui temperatur maksimum 31,7° C, minimum 22,2°, dengan temperature rata-rata 27,8°C. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April, yaitu rata-rata sebesar 456,3 mm, dan menyusul pada bulan Desember yaitu sebesar 360,6 mm. Jumlah hari hujan terbanyak juga terjadi pada bulan April, dengan rata-rata sebanyak 22 hari, menyusul pada bulan Januari sebesar 20 hari. Rata-rata jumlah hari hujan perbulan dalam tahun 2005 adalah sebesar 14,1 hari.
Penyinaran matahari rata-rata 64,7 %. Tekanan udara rata-rata setahun sebesar 1.111,1 milibar. Kelembaban nisbi rata-rata 81,9 %. Kecepatan angin rata-rata 5,7 knot. Kecepatan angin terbesar pada Musim Timur terjadi pada bulan April, yaitu sebesar 30 knot dengan arah angin dari Tenggara menuju Barat Laut, dan pada Musim Barat terjadi pada bulan Januari sebesar 25 knot dengan arah angin dari Barat Laut ke Tenggara. Tinggi gelombang rata-rata pada musim tersebut di atas sebesar 2 m.

 

 

B. Daftar Kecamatan

Kabupaten ini berasal dari hasil pemekaran kabupaten Maluku Tengah yang terdiri dari:
  1. Kecamatan Siwalalat
  2. Kecamatan Bula
  3. Kecamatan Pulau Gorom
  4. Kecamatan Seram Timur
  5. Kecamatan Werinama
  6. Kecamatan Wakate
  7. Kecamatan Tutuk Tolu
  8. Kecamatan Teor
  9. Kecamatan Pulau Panjang
  10. Kecamatan Bula Barat
  11. Kecamatan Kilmury
  12. Kecamatan Gorom Timur

Daerah ini terpisah atas tiga bagian utama yaitu Pulau Seram (Bagian Timur), Kepulauan Gorom dan Kepulauan Watubela.

C. Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Seram Bagian Timur pada pendataan terakhir tahun 2013 (sumber : BPS Kabupaten Seram Bagian Timur) sebesar 104.902 jiwa yang terdiri dari : Laki-laki 53.371 Jiwa dan Perempuan 51.531 Jiwa.

 

D. Pendidikan

Sarana dan parasara pendidikan di Kab. SBT masih terbatas sehingga menyebabkan rendahnya kualitas sumberdaya manusia serta rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Dinas Pendidikan, jumlah SD/MI teridentifikasi sebanyak 143 buah dengan jumlah murid sebanyak 19.739 orang dan tenaga guru sebanyak 821 orang (Rasio Guru dan Murid 1 : 24). Jumlah MTs/SMPsebanyak 35 buah dengan jumlah murid 5657 orang dan jumlah guru 222 orang (Rasio Guru dan Murid 1 : 24). Jumlah SMA/SMK sebanyak 15 unit dengan jumlah guru 138 orang dan jumlah siswa 3463 orang (Rasio Guru dan Murid 1 : 25)
  • Angka partisipasi murni (APM) SD/MI = 92,8%.
  • APM SMP/MTs = 92,19%
  • APM SMA/MA = 81,5%
  • Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI = 83,63%
  • APK SMP/MTs = 50,85%
  • APK SMA/MA = 56,13%
Persoalan lain yang ikut mempengaruhi kondisi pendidikan di SBT adalah kurang lebih 40% bangunan (gedung) sekolah dalam keadaan rusak berat, kurangnya sarana dan prasaran pendidikan serta sebaran guru dan ruang belajar yang tidak merata. Sesuai program Pembangunan Nasional bahwa setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya memiliki satu Perguruan Tinggi maka Kab. SBT terdapat satu Perguruan Tinggi Islam Swasta yang berkedudukan di Geser Ibukota Kecamatan Seram Timur.

BACA JUGA 

PROFIL SINGKAT KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR TAHUN 2017

E. Keagamaan

Sesuai amanat Undang-Undang Dasar, dalam mendukung pemeluk agama menjalankan agama yang dianutnya maka perlu disediakan fasilitas peribadatan sesuai jenis agama yang dianut masyarakat SBT. Agama yang dianut masyarakat SBT adalah Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, dan Hindu. Jumlah fasilitas peribadatan sampai saat ini, Masji 265 buah, 87 Lanngar/Surau/Mushala, 10 Gereja Kristen Protestan, 7 Gereja Kristen Katolik dan 1 Pura. Yang tak kalah penting dalam membina generasi muda Islam adalah sarana Taman Pengajian Al-Qur’an dan Taman Pengenalan AlQur’an. Jumlah TPQ di Kabupaten Seram Bagian Timur sebanyak 100 TPQ.

F. Kesejahteraan Sosial

Data jumlah penduduk miskin di Kab. SBT, berdasarkan data survey Pemkab SBT tahun 2013 tercatat sebanyak 25.89 Rumah Tangga Miskin (62%). Jumlah RTM yang memperoleh bantuan langsung tunai (BLT) sebanyak 6719RTM dengan nilai bantuan per RTM per triwulan sebesar Rp.300.000. Sedangkan jumlah Komunitas Adat Terpencil (th.2006) sebanyak 190 KK yang tersebar pada Kecamatan Bula dan Tutuktolu.

 

 

G. Kesehatan

Indikator status kesehatan masyarakat menunjukkan pelayanan kesehatan masih memerlukan upaya pemerataan, perbaikan, maupun peningkatan. Jumlah prasarana kesehatan pada 2006 terdiri dari 1 buah Rumah Sakit Tipe C yang saat ini dalam proses melengkapi seluruh sarana dan prasarana pelayanan pelayanan pengobatan dan perawatan, 4 unit Puskesmas Rawat Inap, dan 3 buah Puskesmas Rawat Jalan serta 39 buah Puskesmas Pembantu. Sedangkan jumlah tenaga paramedic sebanyak 13 orang dan paramedic sebanyak 96 orang.
  • Rasio para medis dengan penduduk adalah 1 : 9.010.
  • Rasio para medis dengan penduduk 1 : 1220.
Gambaran derajat kesehatan balita: Balita Gizi Lebih 0,94%, Balita Gizi Baik 81,94%, Balita Gizi Buruk 0,12%, Balita Gizi Kurang 16,97%.

 

H.  Kondisi Sosial

1.  SDA

a. Perikanan dan Kelautan

Potensi lestari sektor perikanan meliputi ikan permukaan (pelagis) dan ikan dasar (demershal) diperkirakan 128.692,2 ton/tahun dimana sampai tahun 2013 baru dapat dikelola 9.340,6 ton (7,79%) dengan nilai produksi 13.561.250.000. Disamping itu masih terdapat berbagai potensi kelautan bernilai ekonomis tinggi seperti teripang, lola, cumi-cumi, kepting, udang penaide, dll.

b. Pertanian

Luas lahan potensial 131.364 Ha. Rincian peruntukan dan pengelolaannya sbb: Tanaman Pangan dan Hortikultura 27.096Ha (20,62%). Sampai saat ini beru dikelola seluas 9.500Ha (35,06%) dengan jenis komoditas padi, palawija, jagung, kacang tanah, sayur dan buah-buahan.

c. Perkebunan

Luas lahan potensial 99.212Ha (75,51%), sampai saat ini baru dikelola 340,13Ha (6,69%) dengan jenis ternak yakni sapi, kambing, ayam ras dan itik.

d. Pertambangan

Meliputi pertambangan umum dan pertambangan migas. Potensi pertambangan umum meliputi batu bara, emas, tembaga, nikel, krom, kobalt, basi, magnesium, mangan dan zirconium. Pertambangan Migas meliputi minyak bumi dan nafta.

e. Transportasi

2013, teridentifikasi panjang jaringan jalan yang berhasil dibangun 580,17KM (Rincian: Jalan Aspal 58,35KM, Jalan Kerikil 0 KM, Jalan Tanah 50,88 KM, Tidak di Rinci 470,94KM
Jembatan Darat teridentifikasi 188 buah dengan total panjang bentangan kurang lebih 8.562 meter. Sedangkan jembatan darat yang terdapat pada jalan antar wilayah dan lingkar pulau sebanyak 143 unit dengan total panjang bentangan kurang lebih 4127 meter.
Pelayanan transportasi laut terdiri atas pelayaran nasional dan pelayaran swasta. Frekuensi kedatangan dan keberangkatan untuk rute Ambon – Bula – Geser – Gorom adalah 3 kali dalam sebulan dilayani oleh swasta. Sedangkan frekuensi pelayaran nasional dari Geser ke Bula sementara ini masih satu kali dalam seminggu.
Upaya perwujudan pelayanan transportasi udara sampai 2013 belum terlaksana. Sarana transportasi udara yang ada hanya bersifat khusus pelayanan perusahaan minyak di Bula. Untuk umum diberikan 3 seat setiap penerbangan dengan frekuensi 3 kali seminggu. Untuk itu Pemkab SBT merencanakan membangun bandara baru dengan panjang landasan pacu sekitar 2000 meter dimana pada tahun ini dilakukan studi infestigatif terkait penyiapan pelaksanaan pembangunannya.

f. Kelistrikan

Sarana jaringan listrik masyarakat berasal dari PT. PLN (persero) melalui unit-unit pembangikit tenaga Diesel yang terdapat di Werinama, Bula, Geser, Gorom, Tutuktolu, dan Wakate. Pelayanan penerangannya baru sebatas pada mala hari sedangkan di Kota Bula pelayanan penerangannya sejak pertengahan 2007 sudah 24 jam.

g. Pos-Telekomunikasi

Sarana pelayanan Pos dan Giro sebelumnya sebanyak 3 kantor. Sampai saat ini hanya 2 kantor saja yang beroperasi yakni di Kecamatan Bula dan Kecamatan Seram Timur. Jaringan informasi dirasakan perlu oleh masyarakat, terbukti dengan adanya stasiun telepon seluler yang saat ini telah eksis di empat kecamatan yakni Bula, Werinama, Seram Timur, dan Pulau Gorom. Sejak 2007 dan 2008 diupayakan kemampuan peyebaran informasi melalui media massa, baik cetak maupun elektronik dapat dinikmati masyarakat yang berada di enam kecamatan.

h. Sarana Ekonomi

Sarana perdagangan berupa pasar sebanyak 6 unit, terdiri dari Pasar Inpres 1 unit yang berlokasi di Bula dan Pasar Tradisional 5 unit yang masing-masing berlokasi di Kecamatan Seram Timur, Pulau Gorom dan Werinama.
Koperasi, tahun 2013 berjumlah 119 unit yang keanggotannya kebanyakan terdiri dari masyarakat petani dan nelayan.

i. Lembaga Keuangan

Lembaga keungan yang ada di Kab. SBT terdiri dari Kantor Cabang Bank Maluku 2 Unit,  Kantor Cabang BRI 1 unit dan Bank Syariah Mandiri 1 Unit.

j. Inflasi

Salah satu indikator untuk melihat tingkat inflasi dan deflasi adalah indeks harga implisit PDRB. Hasil perhitungan menunjukkan angka indeks harga implisit Th.2013 sebesar 250,01%. Ini menunjukkan secara keseluruhan harga barang dan jasa yang dihasilkan SBT mengalami kenaikan 50,79% dari harga pada tahun 2012.

Ringkasan Hasil Penelitian Pertumbuhan dan Perkembangan Bungan dan Buah Pala




UNIVERSITAS DARUSSALAM AMBON
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

RINGKASAN HASIL PENELITIAN
Judul               : Pertumbuhan   Dan    Perkembangan   Bunga   Dan  Buah Tanaman Pala (Myristica Fragrans Houtt) Di Kecamatan Amahai
Nama               : Ros La Gamba
NPM               : …………..
Prodi               : Agroteknologi
Pembimbing    : 1. Ir. Suman Sangadji, MSi
: 2. Louisa S. Manuhutu, SP. MSi
Hari/tanggal    : 
Tempat                  : Ruang Kuliah Pertanian
 


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Tanaman pala (Myristica fragrans Houtt) ialah tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Tanaman pala merupakan tumbuhan berbatang sedang yang tumbuh di daerah tropis, beriklim lembab dan panas, serta memiliki daun berbentuk bulat telur atau lonjong yang selalu hijau sepanjang tahun. Di Indonesia penghasil utama pala berasal dari wilayah Maluku, Sulawesi Utara, Maluku utara, Sumatra Barat, Aceh, jawa Barat, dan Papua.
Pala (Myristica Fragan Houtt) merupakan tanaman buah berupa pohon tinggi asli Indonesia, karena tanaman ini berasal dari Banda dan Maluku. Tanaman pala menyebar ke Pulau Jawa, pada saat perjalanan Marcopollo ke Tiongkok yang melewati pulau Jawa pada tahun 1271 sampai 1295 pembudidayaan tanaman pala terus meluas sampai Sumatera dan sekarang sudah menyebar ke daerah-daerah lain Indonesia, bahkan sampai di Granada, Amerika Tengah dan lain-lain. Jenis ini sampai sekarang masih merupakan jenis yang unggul utama di Indonesia, tumbuh baik di daerah pegunungan dengan ketinggian kurang dari 700 meter dari permukaan laut. Jenis ini membentuk pohon yang tingginya lebih dari 18 meter dan berdiameter 30-45 cm (Ditjen Perkebunan, 2006).
Tanaman ini merupakan tanaman keras yang dapat berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Tanaman pala tumbuh dengan baik di daerah tropis, selain di Indonesia terdapat pula di Amerika, Asia dan Afrika.  Pala termasuk famili Myristicaceae yang terdiri atas 15 genus (marga) dan  250 species (jenis). Dari 15 marga tersebut 5 marga di antaranya berada di daerah tropis Amerika, 6 marga di tropis Afrika dan 4 marga di tropis Asia (Rismunandar 1990).
Tanaman pala dapat dideskripsikan sebagai pohon yang berpenampilan indah dengan tinggi 10-20 meter, menjulang tinggi ke atas dan ke pinggir, mahkota pohonnya meruncing, berbentuk kerucut, lonjong dan bulat dengan percabangan relatif teratur. Daun pala berwarna hijau mengkilap dan gelap, panjang 5-14 cm, lebar 3-7 cm dan panjang tangkai daun 0,4-1,5 cm. Buahnya bulat sampai lonjong, berwarna hijau kekuningan, apabila masak akan berbelah dua dengan diameter 3-9 cm. Daging buahnya tebal dan asam. Biji berbentuk bulat sampai lonjong dengan panjang 1,5-4,5 cm dan lebar 1-2,5 cm. Warna bijinya coklat sedangkan kernel bijinya berwarna keputihan. Fulinya merah gelap dan ada pula yang putih kekuningan dan membungkus biji menyerupai jala. Kulitnya mengandung minyak atsiri, tetapi dapat juga diusahakan dari daun (Hadad, 2001).
Pohon pala menghasilkan buah sepanjang tahun. Untuk berkembang mulai bunga menjadi buah masak diperlukan waktu 6-7 bulan. Panen buah pada permulaan musim hujan memberikan hasil paling baik dengan bunga pala yang paling tebal. Tujuan utama pengusahaan tanaman pala adalah untuk memperoleh biji pala dan fuli. Bagian yang terpenting dari biji pala adalah kandungan minyak eteris dengan berat 2-15 persen dan lemak 30-40 persen, sedangkan untuk fuli 7-8 persen minyak eteris dan lemak 20-30 persen (Hadad, 2001).

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka bermaksud melakukan penelitian tentang  Pertumbuhan   Dan    Perkembangan   Bunga   Dan  Buah Tanaman Pala (Myristica Fragrans Houtt) Di Kecamatan Amahai


1.2 Perumusan Masalah

Adapun masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagaimana proses pertumbuhan dan perkembngan bunga dan buah pala (Myristica fragrans Houtt) dari mulai berbunga sampai panen di Kecamatan  Amahai?
2.      Bagaimana kurva pertumbuhan buah pala hingga umur 4-6 bulan?
3.      Kapan waktu berbunga dan panen pala di Kecamatan Amahai?


1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk:
1.      Mengkaji pertumbuhan dan perkembangan bunga dan buah pala di kecamatan Amahai.
2.      Mengetahui waktu berbunga, berbuah dan panen pala di Kecamatan Amahai.
3.      Membuat kurva pertubuhan buah pala di Kecamatan Amahai.


1.4 Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain:
1.      Menjadi bahan informasi terkait pertumbuhan dan perkembngan bunga dan buah pala di Maluku Tengah, khususnya Kecamatan Amahai.
2.      Menjadi bahan informasi bagi petani pala pada pertumbuhan bunga dan buah pala sehingga panen pala umur dini dapat di kurangi.
3.      Menambah wawasan tentang pertumbuhan serta perkembangan bunga dan buah pala dan menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya.

III.   METODE PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 6 (enam) bulan dan mulai dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2014 dengan mengambil lokasi penelitian di Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah..

3.2.  Alat dan Bahan
-          Peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah jangka sorong TRICLE BRAND, altimeter, kamera, piloks, alat tulis, gunting, parmanent marker.
-          Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah pala, gelas plastik bekas, notes, tali senar.

3.3. Metode Penelitian
Tanaman pala dipilih 10 pohon secara acak, dengan memperhatikan kesehatan pohon, tajuk sempurna dan tidak terserang hama dan penyakit. Dari 10 pohon yang dijadikan sampel akan di tandai 1 sampai 10. Setiap pohon akan diambil 10 buah secara acak untuk pengamatan buah.


3.2. Variabel pengamatan
Variabel pengamatan dalam penelitian ini berupa:
a.      Bunga, waktu pembentukan bunga.
b.     Lama waktu pembungaan.
c.         Pertumbuhan buah, akan diukur diameter buah sejak umur 6-8 minggu, 6 bulan hingga 8 bulan dengan cara pengukuran menggunakan jangka sorong.
d.     Perkembangan buah, dengan mengamati perubahan warna.
e.      Waktu panen, dengan membandingkan hasil penelitian dan hasil wawancara petani.

3.4. Analisis Data
Data hasil pengamatan akan ditabulasi serta dianalisis pertumbuhan dan perkembangan bunga maupun buah. Untuk pertumbuhan buah, berupa diameter dibuat kurva pertumbuhan, disamping itu akan dianalisis model pertumbuhan buah pala dengan menggunakan analisis regresi. Sedangkan untuk kualitas biji akan digunakan analisis statistik deskriptif.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Waktu Pembentukan Bunga
Berdasarkan hasil penelitian, pembentukan bunga yang terjadi di desa Hila biasanya pada bulan Maret-April dan pada bulan Desember-Januari serta September. Pembentukan bunga terbanyak terjadi pada bulan Maret-April. Terbentuknya bakal bunga pala dapat dilihat pada Gambar 3.


 




Gambar 1. bunga pala



B.    Lama Waktu Pembungaan
Proses pembungaan terjadi ketika pucuk bunga mulai jalan hingga mekar dan selanjutnya pembungaan selesai pada saat bunga selesai mekar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu proses pembungaan dari saat terlihat bakal bunga (primordia) hingga mekar yaitu 49-56 hari. Sedangkan dari selesai bunga mekar menjadi buah membutuhkan waktu kurang lebih 6-13 hari. Proses pembungaan dapat dilihat pada Gambar 4.



 


 




Gambar 2 Awal pembentukan bunga (a), bunga mekar (b), dan selesai mekar (c).



C. Pertumbuhan dan Strata Buah


Dari hasil pengamatan terlihat bahwa pada setiap pohon pala terdapat buah pala dengan beberapa ukun buah (strata).  Ini disebabkan dalam setahun terjadi pembungaan dan pembuahan sebanyak tiga kali, dan pertumbuhan dan perkembangan  buah hingga panen yang cukup lama.  Variabel pertumbuhan buah diambil 10 buah untuk masing-masing pohon dan pada setiap strata buah. Strata buah dan strata biji disajikan pada gambar 3.


 











Gambar 3. Strata buah

Berdasarkan ukuran diameter buah saat pengukuran, maka buah dibagi menjadi tiga strata, yaitu strata I (17,6-46,4 mm), strata II (43-47,5 mm) dan strata III (44,8-48,4 mm) dan juga dilihat secara fisik dari warna buah (Gambar 5) yang berbeda, yaitu buah kecil (warna hijau muda), buah sedang )warna hijau hingga kekuning muda, dan buah besar (warna kuning tua). Dari prosentasi ukuran buah kecil terhadap buah sedang dan buah besar adalah 40,9% dan 39,29%. Ini berarti buah kecil saat pengukuran adalah buah dengan diameter dibawah buah besar (buah hampir panen) < 40%, dan terhadap buah sedang 39%, sedangkan buah sedang terhadap buah besar adalah 95,98%, dan rata-rata prosentasi buah pada pengukuran terakhir berkisar antara 95-98 %. Ini berarti bahwa rata-rata dipengukuran terakhir buah yang diukur adalah buah yang telah berukuran maksimum karena perbedaan ukuran yang cukup kecil,






 


Gambar  4  bakal buah



 
 






Gambar 5. Buah pala strata I (a), strata II (b), strata III (c), strata I yang dibelah (d), strata  II  yang dibelah (e), dan strata III yang dibelah (f).

Perhitungan terhadap diameter buah dilakukan dan diperoleh rata-rata diameter buah dari 10 pohon berdasarkan strata per minggu selama 25 minggu. Strata III merupakan buah yang telah siap untuk dipanen.Pengukuran diameter rata-rata buah per minggu dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1.  Hasil pengukuran rata-rata diameter buah pala per minggu.


STRATA BUAH
Diameter buah/minggu (mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
I
17,6
20,3
23,1
26
28,5
30,3
32,6
35
36,5
38,4
40
41
II
43
43,5
44,8
45
45,1
45,6
46
46,3
46,9
47,2
47,4
47,4
III
44,8
45,5
47,6
48
48,2
48,3
48,4
48,4
48,4
48,4
48,4
48,4


STRATA BUAH
Diameter buah/minggu (mm)


13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
I
41,9
42,5
43
43,7
44,5
45,1
45,3
45,6
45,8
46
46,2
46,3
46,4
II
47,5
47,5
47,5
47,5
47,5
47,5
47,5
47,5
47,5
47,5
47,5
47,5
47,5
III
48,4
48,4
48,4
48,4
48,4
48,4
48,4
48,4
48,4
48,4
48,4
48,4
48,4
  
Keterangan : warnah hijau  = buah yang sudah terbelah (merekah)


Data penelitian menunjukkan bahwa strata I dari minggu pertama hingga minggu ke-23 mengalami perubahan diameter hingga 0,2 mm. Sedangkan pada minggu ke-23 sampai minggu ke-25, perubahan diameter berkisar di 0,1 mm. Hal ini menunjukkan strata I dari tiap pohon memasuki fase tetap (buah tidak lagi berkembang). Buah pada strata II mulai memasuki masa panen pada minggu ke­10 dengan tingkat =mica. sebesar 3% dan pada minggu ke-23 hampir mencapai 50%. Sedangkan buah pada strata III memasuki panen pada minggu ke-4 dengan tingkat merekah sebesar 2% dan pada minggu ke-13 tingkat merekah lebih dari 50%.
Dalam pengukuran diameter buah pala berdasarkan pengamatan, sering terjadi perubahan diameter yang begitu signifikan per minggunya. Perbedaan hasil diameter dan umur masak dari setiap buah pala yang diukur diduga disebabkan karena pengarah faktor lingkungan seperti dapat dilihat pada grafik di bawah ini (Gambar 7).



 




Gambar 6. Kurva pertumbuhan diameter buah pala.

Dari kurva pertumbuhan diamater buah terlihat bahwa pertumbuhan buah pala hingga minggu ke I5 merupakan pertumbuhan bersifat linier (pertumbuhan cepat), selanjutnya mencapai maksimum pada minggu 20, dan diameter tidak bertambah hingga buah panen pada minggu ke 40. Perlu dijelaskan bahwa pengukuran buah yang dilakukan terjadi pertama kali diperkirakan pada umur buah sudah 6-8 minggu.









Gambar 7. Kurva pertumbuhan diameter buah pala Stara II

Dari kurva pertumbuhan diamater buah terlihat bahwa pertumbuhan buah pala hingga minggu ke 9 merupakan pertumbuhan bersifat linier (pertumbuhan cepat), selanjutnya mencapai maksimum pada minggu 10, dan diameter tidak bertambah hingga buah panen pada minggu ke 25. Perlu dijelaskan bahwa pengukuran buah starata II yang dilakukan terjadi pertama kali diperkirakan pada umur buah sudah 22-23 minggu.


Gambar 8. Kurva pertumbuhan diameter buah pala Stara III

Dari kurva pertumbuhan dibuat persamaan hubungan antara waktu pengamatan dengan perkembangan diamater buah. Dari hasil analisis terlihat model hubungan adalah hubungan kuadratik, dengan persamaan Y = 0.0685 + 47.19, dengan nilai R2 = 0.3099. Dengan mengikuti persamaan ini maka nilai ukuran maksimum diameter tercapai pada minggu ke 23 yaitu 48,4 mm.
            Dari seluruh pengukuran diameter buah selama penelitian jika digabungkan maka terlihat kurva pertumbuhan buah pala mengikuti pola kuva sigmoid (kurva pertumbuhan tanaman) (gambar ).



Gambar 9 . kurva pertumbuhan diameter buah pala selama penelitian

D. Proses Pertumbuhan dan Perkembangan Buah

Pembentukan bakal bunga (primordia) sampai menjadi bunga pala membutuhkan waktu 1 Minggu, dan dari bunga hingga bunga mekar membutuhkan waktu 7-8 Minggu. Sedangkan dari selesai bunga mekar menjadi buah membutuhkan waktu kurang lebih 1-2 Minggu.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan petani disampaikan bahwa umur buah pala saat menjadi buah sampai panen memakan waktu sekitar 9-10 bulan. Disampaikan juga bahwa faktor lingkungan diduga turut mempengaruhi pertumbuhan buah meliputi kelembaban, suhu, curah hujan, dan intensitas cahaya matahari. Kelembaban dan curah hujan tinggi dapat mengganggu proses metabolisme dalam tubuh tanaman.
Menurut Kristanto (2003), curah hujan tinggi menyebabkan kelembaban tinggi dan suhu rendah sehingga mempengaruhi pertumbuhan buah. Selama pertumbuhannya buah memerlukan asupan nutrisi yang cukup sehingga dapat menghasilkan buah yang bagus. Pertumbuhan buah juga memerlukan intensitas cahaya penuh yaitu 70-80% (Kristanto, 2003)
E.    Waktu Panen


Waktu penen buah pala di Kecamatan Amahai biasanya tiga kali dalam setahun, yakni pada bulan April-Mei, Juni-Juli, dan September-Oktober. Dari hasil wawancara ada sebagian petani panen buah pala hanya dua kali dalam setahun yang disebut dengan panen musim Barat dan panen musim Timur.


 



Gambar 10. Buah pala yang siap di panen



V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambi kesimpulan sebagai berikut :
1.      Waktu berbunga tanaman pala di Kecamatan Amahai desa Amahai adalah bulan Maret-April dan pada bulan Desember-Januari serta September. Pembentukan bunga terbanyak terjadi pada bulan Maret-April.
2.      Proses pembungaan dari saat terlihat bakal bunga (primordia) hingga mekar yaitu 7-8 Minggu. Sedangkan dari selesai bunga mekar menjadi buah membutuhkan waktu kurang lebih 1-2 Minggu.
3.      Dari hasil pengamatan terlihat bahwa pada setiap pohon pala terdapat buah pala dengan beberapa ukun buah (strata).  Ini disebabkan dalam setahun terjadi pembungaan dan pembuahan sebanyak tiga kali, dan pertumbuhan dan perkembangan  buah hingga panen yang cukup lama. 
4.      Waktu penen buah pala di desa Amahai oleh petani biasanya tiga kali dalam setahun, yakni pada bulan Desember:Januari, Mei-Juni, dan September- November. Dari hasil pengamatan perkembangan buah pala, panen yang lebih tepat sebaiknya pada bulan Februari-Maret, Juni-Juli; dan November-Desember.



5.2 Saran


Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan diatas, maka saran yang dapat penulis sampaikan pada kesempatan ini adalah sebagai berikut :
1.    Ada baiknya penelitian seperti ini khususnya penelitian terhadap komoditi pala lebih ditingkatkan, agar masyarakat petani pala lebih memahami perilaku-perilaku atau pertumbuhan dan perkembangan buah pala sehingga potensi ini dapat menjadi hasil primadona bagi daerah Maluku khusunya bagi peningkatan taraf hidup masyarakat Maluku.
2.       Bila terdapat keinginan dari pembaca untuk melakukan penelitian tentang komoditi pala, maka ada baiknya melakukan penelitian terhadap system pembudidayaan, karena dari hasil wawancara penulis dengan beberapa petani disampaikan bahwa kendala utama dalam pembudidayaan pala terletak pada pemilihan jenis bibit yang baik sehingga biasanya hanya sebagian kecil yang bisa menghasilkan buah.




DAFTAR PUSTAKA

Amos dan W. Purwanto. 2002. Hard Candy dengan Flavor dari Minyak Pala. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol 4(5):1-6.
Bank Indonesia. 2004.

Bustaman, S. 2008. Prospek Pengembangan Minyak Pala Banda sebagai Komoditas Ekspor Maluku. Artikel Jurnal Litbang Pertanian.

Departemen Pertanian. 1986. Pala dan Pengolahannya. Irian Jaya: Bagian Proyek Informasi Pertanian. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2006. Statistik Perkebunan Indonesia. Jakarta:

Hadad, H.M. 2001. Perbaikan Budidaya dan Mutu Hasil Tanaman Pala (Myristica fragrans Houtt). Bogor: Balai Penelitian Rempah dan Obat.

Librianto, B.Y. 2004. Ekstraksi oleoresin pala (Myristica fragrans Houtt) dari ampas penyulingan minyak pala menggunakan pelarut organic. Skripsi Fateta. IPB.

Marcelle, G.B. 1975. Production, handling and processing of nutmeg and mace and their utility uses. Corporate Document Repository. FAO of UN.

Nurdjannah, N., Risfaheri, T. Hidayat dan S. Yuliani. 2000. Peningkatan Mutu Lada dan Diversifikasi Produk Pala. Laporan Kerjasama antara Balitro dan BPPT.

Rismunandar. 1990. Budidaya dan Tataniaga Pala. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rudglev, R. (1998). Nutmeg. The Encyclopedia of Psychoactive Substances.

Somaatmadja, D. 1984. Penelitian dan Pengembangan Pala dan Fuli. Bogor: BBIHP.

Sulaiman, M.I., A. Anhar dan Mustafa. 1998. Daging Buah Pala (Myristica fragrans Houtt) sebagai Alternative Baru Bahan Baku Pembuatan Asam Cuka secara Fermentasi. NAD : Fak. Pertanian Universitas Syah Kuala.

Suryaningsih, I. 1989. Mempelajari Proses Pembuatan Cider Pala (Myristica fragrance Hout). Bogor : Fateta IPB.

Susanti, L. 2004. Pembuatan Minuman Instan Pala (Myristica fragrans Houtt) dengan Menggunakan Alat Pengering Semprot. Bogor : Fateta IPB.